Wall Street Bergejolak, Treasury dan Suku Bunga Bikin Worry!

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup tak kompak pada penutupan perdagangan Rabu (27/9/2023) karena investor mempertimbangkan kenaikan imbal hasil.

Dow Jones ditutup melemah 0,20% diposisi 33.550,27, sementara S&P 500 ditutup menguat 0,02% diposisi 4.274,51, begitu juga dengan Nasdaq terapresiasi 0,22% diposisi 13.092,85.

S&P 500 dan Nasdaq terapresiasi pada perdagangan hari Rabu setelah sesi yang fluktuatif, karena investor mempertimbangkan apakah akan memulai bargain hunter setelah aksi jual yang dipicu oleh kenaikan imbal hasil Treasury dan ketidakpastian mengenai arah suku bunga di masa depan.

Di antara sektor-sektor S&P 500, kelompok utilitas yang sensitif terhadap suku bunga, SPLRCU mengalami penurunan terbesar, turun 1,9%. Disektor energi SPNY naik 2,5%, karena minyak mentah Brent menembus US$97 per barel, dengan lonjakan harga minyak menimbulkan ancaman baru terhadap inflasi yang telah moderat.

Sementara di Nasdaq, saham-saham yang naik melebihi jumlah yang turun dengan rasio 1,1 banding 1. Nasdaq mencatat 35 titik tertinggi baru dan 333 titik terendah baru.

Sekitar 10,9 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, dibandingkan dengan rata-rata harian 10,2 miliar selama 20 sesi terakhir.

Investor sedang peka terhadap perkembangan di Washington ketika perpecahan di antara anggota parlemen AS menempatkan pemerintah federal pada risiko penutupan sebagian pada akhir pekan.

Kemungkinan penutupan pasar telah menambah kekhawatiran bagi investor saham karena mereka bergulat dengan imbal hasil Treasury yang telah naik ke level tertinggi dalam 16 tahun setelah The Federal Reserve pekan lalu mengisyaratkan jalur suku bunga jangka panjang yang hawkish.

Pada saat yang sama, ketika S&P 500 telah mengurangi kenaikannya secara signifikan sepanjang tahun ini, beberapa investor bertanya-tanya apakah pasar sedang mendekati titik terendah.

Baca Juga  Duh, 2 Bank RI Bangkrut, LPS Turun Tangan Lakukan Ini

“Pada titik tertentu, orang-orang akan mulai membeli saham pada kuartal keempat, dan penjualan pada kuartal ketiga mungkin hampir selesai,” ucap Peter Tuz, presiden Chase Investment Counsel.

“Pada tingkat tertentu, orang-orang akan kembali berpikir bahwa kuartal keempat mungkin akan menjadi kuartal yang cukup bagus.”




Foto: refinitiv

Di Washington, Ketua DPR AS dari Partai Republik Kevin McCarthy menolak rancangan undang-undang pendanaan sementara yang diajukan di Senat, sehingga membawa pemerintah mendekati penutupan sebagian (partial shutdown) yang keempat dalam satu dekade.

Data pada hari Rabu menunjukkan pesanan barang-barang manufaktur AS yang tahan lama meningkat pada bulan Agustus sementara belanja bisnis pada peralatan tampaknya mendapatkan kembali momentumnya setelah melemah pada awal kuartal ketiga.

Investor fokus pada indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi bulanan pada hari Jumat untuk mendapatkan pandangan baru mengenai inflasi. Minggu ini juga ada Produk Domestik Bruto kuartal kedua dan pidato dari Ketua The Federal Reserve Jerome Powell.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Was-Was Arah Suku Bunga, Wall Street Dibuka Naik ‘Malu-Malu’

(saw)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *