Bursa Asia Masih Merana, IHSG Bisa Gagal Happy Weekend?


Jakarta, CNBC Indonesia Mayoritas bursa Asia-Pasifik kembali melemah pada awal perdagangan Jumat (1/12/2023), di tengah cerahnya sebagian besar bursa saham Amerika Serikat (AS) dan menjelang rilis data aktivitas manufaktur di beberapa negara termasuk China.

Per pukul 08:30 WIB, hanya indeks Straits Times Singapura yang terpantau menguat pada pagi hari ini, yakni sebesar 0,28%.

Sedangkan sisanya kembali melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun tipis 0,02%, Hang Seng Hong Kong melemah 0,22%, Shanghai Composite China terkoreksi 0,14%, ASX 200 Australia terpangkas 0,44%, dan KOSPI Korea Selatan ambles 1,03%.

Dari China, setelah kemarin data aktivitas manufaktur yang tergambarkan pada Purchasing Manager’s Index (PMI) versi NBS pada periode November 2023 dirilis, pada hari ini giliran versi Caixin yang akan dirilis.

Konsensus pasar dalam Trading Economics memperkirakan PMI manufaktur China versi Caixin pada November lalu mencapai 49,8.

Jika benar, maka manufaktur China sedikit membaik dari periode Oktober yang di angka 49,5. Namun, aktivitas manufaktur China masih berada di zona kontraksi karena berada di bawah angka acuan 50.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.

Sebelumnya kemarin, PMI manufaktur China versi NBS sedikit turun menjadi 49,4 pada November, dari sebelumnya di angka 49,5 pada Oktober lalu

Nilai tersebut juga meleset dari perkiraan pasar sebesar 49,8 yang menyoroti bahwa pemulihan ekonomi di negara tersebut masih rapuh dan diperlukan lebih banyak langkah dukungan dari pemerintah.

Melemahnya ekonomi China dapat menjadi sentimen negatif di kawasan Asia-Pasifik. Pasalnya, China merupakan negara dengan ekonomi terbesar ke-2 dunia dan ekonomi pemimpin Asia.

Baca Juga  Harap Tenang! Likuiditas Bank Masih Aman, 2024 Siap Ekspansi?

Selain China, data PMI manufaktur periode November juga akan dirilis di beberapa negara, seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Indonesia, Uni Eropa, Inggris, dan AS.

Di lain sisi, bursa Asia-Pasifik yang masih melemah terjadi meski bursa saham AS, Wall Street secara mayoritas menguat pada akhir perdagangan Kamis kemarin.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melonjak 1,47% dan S&P 500 menguat 0,38%. Sebaliknya, indeks Nasdaq Composite melemah 0,23%.

Indeks Nasdaqterkoreksi setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) kembali naik kemarin.YieldTreasury tenor 10 tahun naik 7 basis poin (bp) menjadi 4,34%.

Sedangkan indeks Dow Jones dan S&P menguat tajam setelah data pengeluaran pribadi warga AS (Personal Consumption Expenditures Price Index) atau inflasi PCE melandai ke 3% (year-on-year/yoy) pada Oktober 2023, dari 3,4% (yoy) pada September 2023.

Sedangkan secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi PCE pada Oktobertercatat 0%, dari sebelumnya sebesar 0,4% pada September lalu.

Angka inflasi PCEOktober juga lebih rendah dari konsensus pasar dalamTrading Economicsyang memperkirakan tumbuh 0,2% (mtm) dan 3,1% (yoy).

Adapun inflasi PCE inti, yang tidak termasuk harga makanan dan energi, naik 0,2% (mtm) dan 3,5% (yoy) pada bulan ini. Kedua angka tersebut selaras dengan konsensus Dow Jones.

Inflasi PCE ini akan digunakan oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) sebagai acuan untuk menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.

Dengan data inflasi PCE yang semakin mendingin, maka hal ini dapat memperkuat optimisme pasar akan berakhirnya era suku bunga tinggi di tahun depan.

Pelaku pasar sudah mengantisipasi penurunan suku bunga acuan pada pertengahan 2024. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, sebanyak 96% pelaku pasar memprediksi bahwa The Fed akan menahan kembali suku bunga acuannya pada pertemuan Desember mendatang.

Baca Juga  Bos PIS Beberkan Strategi Cetak Kinerja Moncer di 2023

Sementara itu, pelaku pasar memprediksi The Fed baru akan memulai pangkas suku bunga acuannya pada pertemuan Mei 2024, yakni sebanyak 49,5%.

Sejak Maret 2022, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 525 basis poin (bp) ke kisaran saat ini 5,25%-5,50%.

Di lain sisi, kondisi pasar tenaga kerja juga terus membaik diperkuat oleh laporan terpisah dari Departemen Tenaga Kerja yang menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran meningkat 7.000 menjadi 218.000 yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 25 November. Para ekonom memperkirakan 226.000 klaim untuk minggu terakhir.

Data klaim minggu lalu termasuk Hari Libur Thanksgiving. Klaim cenderung fluktuatif saat hari libur. Namun, pasar tenaga kerja melemah seiring dengan permintaan perekonomian secara keseluruhan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Ada Kabar Baik Nih, Bursa Asia Kompak Bergairah

(chd/chd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *