Bos BI Ramal Nasib Dolar AS, Bisa Segini di Akhir Tahun!

Jakarta, CNBC Indonesia – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan potensi masih akan terus tingginya tekanan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah dalam jangka waktu yang panjang.

Menurut Perry, kondisi tersebut dipicu oleh munculnya fenomena baru, yakni term premia atau meningkat tingginya suku bunga US Treasury karena membengkaknya utang pemerintah AS untuk kebutuhan pemulihan Covid-19 dan pembiayaan perang.

“Yang baru adalah besarnya utang pemerintah AS karena untuk biaya Covid dan juga sekarang perang, menyebabkan suku bunga obligasi pemerintah AS atau yield US Treasury meningkat tajam,” kata Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (13/11/2023).

Berdasarkan catatannya, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun telah meningkat sejak kuartal III-2023 menjadi 4,57% dari kuartal II sebesar 3,84%. Lalu pada kuartal IV naik pesat menjadi 5,16% dan baru turun pada paruh kedua 2024 menjadi 4,87%.

Akibat kondisi ini ia mengatakan, aliran modal dari negara-negara berkembang atau emerging market terus keluar menuju aset-aset likuid di negara maju, terutama dolar Amerika Serikat. Kondisi ini menyebabkan fenomena strong dollar.

Indeks dolar AS atau DXY pun telah meningkat dari kuartal II-2023 sebesar 102,6 menjadi 103,3 pada kuartal III-2023. Lalu, pada kuartal IV naik menjadi 107 dan baru pada 2024 menurutnya akan turun ke level 102,1.

“Itu adalah penguatan dolar dan tahun depan kemungkinan mulai melemah. Tapi masih tinggi 102,1 dan fenomena-fenomena ini memerlukan upaya ekstra keras dari emerging market termasuk Indonesia untuk menjaga ketahanan ekonomi,” ucap Perry.

Dampak rambatan dari tekanan kuat dolar tersebut, kata Perry sebetulnya masih terkendali terhadap rupiah ketimbang depresiasi mata uang negara-negara lain. Rata-rata pergerakan rupiah sepanjang tahun ini pun ia perkirakan di level Rp 15.280.

Baca Juga  Saham Perbankan Masih Volatile, Prospeknya Gimana?

“Ini didukung kondisi ekonomi kita yang cukup baik, baik dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, maupun dampak positif PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 36 2023 tentang DHE SDA (Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam),” tegasnya.

Kendati begitu, berdasarkan data Perry, rata-rata nilai tukar rupiah pada kuartal IV-2023 akan bergerak di level Rp 15.755 dari sebelumnya pada kuartal III di kisaran Rp 15.215 per dolar AS. Pada 2024, berdasarkan asumsi Rencana Anggaran Tahunan Bank Indonesia (RATBI) 2024 sebesar Rp 15.510.

“Ke depan tentu saja dengan perkiraan gejolak global akan mereda kami perkirakan 2024 nilai tukar rupiah lebih stabli dari akhir tahun 2023 sebagaimana ditabel,” tutur Perry.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Penampakan Kontainer dan Kardus Berisi Uang Baru 10 M

(haa/haa)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *